Komunikasi Politik Melalui Musik: Analisis Encoding-Decoding terhadap Pergeseran Persepsi Masyarakat atas Lagu 'Oke Gas' Pasca Pemilu di Era Digital
Kata Kunci:
Komunikasi politik, lagu “Oke Gas”, encoding-decoding, persepsi masyarakat, era digitalAbstrak
Musik merupakan salah satu bentuk media yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan politik secara emosional, sehingga berpotensi membentuk opini publik. Fenomena ini tercermin melalui lagu “Oke Gas” pada pasca-pemilu yang memicu berbagai respons masyarakat, khususnya di media sosial. Lagu ini mengandung pesan-pesan yang dapat dipahami sebagai bentuk dukungan terhadap aktor tertentu. Tujuan adanya penelitian ini untuk menganalisis komunikasi politik melalui media musik dengan mengkaji pengaruh lagu “Oke Gas” terhadap persepsi masyarakat pasca-pemilu di era digital. Landasan teori yang digunakan adalah Teori Encoding-Decoding yang dikemukakan oleh Stuart Hall. Penelitian ini membahas bagaimana aktor politik menyampaikan kampanye melalui musik (encoding) dan menganalisis respon masyarakat ke dalam tiga posisi decoding, yaitu masyarakat dominan, negosiasi, dan oposisi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder melalui studi dokumentasi yang diperoleh dari artikel dan komentar-komentar di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons masyarakat terhadap lagu “Oke Gas” pasca-pemilu mengalami pergeseran yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan masa kampanye. Artinya, lagu ini memiliki pengaruh dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap dinamika politik yang terjadi pada masa pemerintahan Prabowo-gibran. Hal ini menegaskan bahwa musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sebagai media komunikasi politik yang efektif dalam membangun opini publik di era digital.








